Balada Minggu Pagi


Melihat hujan yang turun pada awal bulan oktober, hujan yang dinantikan. Yang membawa kehidupan. Laju kehidupan bagi tumbuhan kembali menemukan titik balik. Kembali tumbuh, air yang ditunggu sebagai penyambung hidup kembali turun. Setelah selama berbulan-bulan kemarau mengajarkan untuk bisa bertahan dan untuk lebih kuat. Lebih menghargai akan karunia yang didapat. 

Laju angin semakin kencang dan dingin, bulu-bulu roma pun berdiri menyambut datangnya kehidupan baru. Neraca kehidupan kembali akan meningkat, kebahagiaan batin akan rasa syukur yang dipanjatkan. Pagi ini sinar mentari menyambut hangat, mengantarkan pada permulaan aktifitas. Bumi basah menyejukkan tanaman yang terguyur hujan. Setiap partikel-partikel kehidupan saling membaur, membentuk suatu sistem yang harmonis. Takjub, raga terdiam, namun hati ini membuncah. Menyesal, selama ini aku tak berbuat apapun.

Belajar, mencari jalan yang akan membawaku menjadi orang yang beruntung. Pada saat masih hidup di dunia ini maupun kelak di akhirat. Banyak hal yang nyatanya harus dilakukan. Banyak tugas yang mestinya ditunaikan. Suatu saat nanti aku akan menertawakan diriku sendiri pada saat ini, ketika aku memperoleh apa yang aku ingin capai sekarang. 

Masih pada minggu pagi pukul 07.15. Minggu pertama pada bulan Oktober, bulan kelahiranku. Tak terasa sudah dua puluh tahun aku hidup di dunia ini. Membandingkan dengan mimpiku tentang penulis, guru, enterpeneur rasanya masih jauh dari harapan. Melihat kebelakang, hari-hari yang kujalani seperti hanya untuk   sekedar melewati hari itu berjalan, menyambut pagi dan melewati malam. 

Mimpiku masih ada dan akan terus ada, menuntunku untuk menemukan jalan kesana. Ketika hujan turun, ketika matahari bersinar, ketika angin berhembus, sungguh pun mereka itu selalu berdzikir, dan menemaniku membangun mimpi menjadi kenyataan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar